Berwisata Alam di Manggarai, Flores – NTT

Gelurnet.Net – Kabupaten Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang beribukotakan Labuan Bajo, baru saja terbentuk, setelah disahkan DPR bersama 25 kabupaten yang lain di awal tahun ini. Kabupaten yang kaya dengan objek wisata itu dimekarkan dari induknya, Kabupaten Manggarai. Tentu saja, proses awal ide pemekarannya sudah memunculkan situasi pro dan kontra. Wilayah yang mengandung banyak sumber daya
alam di darat dan laut itu, khususnya di Taman Nasional Komodo (TNK) dengan binatang purba buaya darat, memberikan harapan kepada masyarakatnya, asalkan dapat dikelola denganbaik.

Di kota itulah, awal perjalanan Anda sebagai wisatawan, bila ingin menikmati keindahan alam sekujur daratan Pulau Flores. Lalu pertanyaannya, apakah Anda pernah mendarat di lapangan udara Labuan Bajo sebagai pintu masuk ke Pulau Flores? Begitu Anda menginjakkan kaki dan mengelilingi Labuan Bajo, Anda akan langsung menikmati
keindahan panorama alamnya.

Kota itu berada persis di bibir laut dan di depannya tampak puluhan pulau, membuat keadaan lautnya tenang, terlindung dari gempuran ombak yang besar. Menyaksikan keindahan alam memberikan kesan tersendiri dan Anda akan mengaguminya. Anda lalu berhasrat mengunjungi beberapa tempat penyelaman yang indah di pulau-pulau di dalam kawasan TNK, termasuk wisata bahari. Tentu saja tanpa lupa melihat binatang komodo
di Pulau Komodo atau Pulau Rinca.

Untuk mengunjungi Labuan Bajo, Anda bisa naik pesawat udara, atau kapal laut, atau melalui darat (diteruskan dengan feri Selat Sape-Labuan Bajo). Dari Denpasar, maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines secara rutin mendarat di Bandara Komodo, Labuan Bajo. Jumlah penumpang pesawat semakin hari semakin meningkat. Belakangan Pelita Air Service membuka jalur penerbangan ke sana.

Hingga saat ini, selain Kupang yang telah dapat didarati pesawat Merpati jenis Boeing 737-400 (B-737-400), baru Maumere yang dapat didarati pesawat F-28, sedangkan melayani rute penerbangan domestik Denpasar-Labuan Bajo menggunakan pesawat F-27. Pesawat Merpati berangkat dari Denpasar ke Labuan Bajo (pp) pada hari Senin, Kamis,
dan Sabtu, sedangkan pesawat Pelita pada hari Selasa, Kamis, dan Minggu.

Mengingat posisi Labuan Bajo menjadi strategis sebagai pintu masuk untuk Pulau Flores, maka pembenahan wilayah itu seharusnya menjadiskala prioritas oleh pemda setempat. Namun, berdasarkan pengamatan, pemda belum memberikan perhatian serius terhadap pengembangan dunia pariwisata Labuan Bajo, walaupun ada kantor dinas pariwisata, tetapi belum berfungsi maksimal. “Memang, sebaiknya tetap dipertahankan Labuan Bajo sebagai pintu masuk ke Pulau Flores. Pola ini harus disosialisasikan,” ujar Paulus Boleng, seorang yang peduli dengan pariwisata.

Kalau pemikiran itu dipakai sebagai acuan, maka tidak mustahil semua objek wisata yang ada di seluruh Pulau Flores akan menjadi makanan empuk para pelancong untuk dinikmati.

Tidak dapat disangkal, bahwa setiap kabupaten di Pulau Flores mempunyai keunikan alam dan budayanya. Ciri-ciri unik seperti ini kurang mendapat perhatian untuk dipromosikan kepada para turis. Masalahnya, kita kurang melakukan kegiatan promosi yang menyeluruh tentang kekayaan pariwisata kita. Bila Anda melakukan kunjungan ke Pulau Flores, maka tujuan Anda yang pertama adalah Labuan Bajo dan yang kedua adalah Ruteng dan seterusnya di Bajawa (Ngada), Ende, Maumere (Sikka) dan Larantuka
(Flores Timur).

Panorama Alam
Anda bisa saksikan panorama alam yang indah bila naik bus dari Labuan Bajo menuju Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai, yang jaraknya sekitar 200 km. Anda akan menikmati keindahan alam di atas jalan yang hotmiks, keindahan persawahan yang luas di Lembor. Anda sendiri menyaksikan gunung dan lembah berbentangan panjang di hampir semua wilayah akibat sisa-sisa peristiwa vulkanik jutaan tahun lalu. Hal ini merupakan panorama alam yang menakjubkan dan layak dinikmati. Gunung dan bukit yang dihiasi pohon dan batu-batuan, menambah indahnya suasana pemandangan, walaupun ketika terjadi gempa bumi 25 Maret 2003 yang lalu di Manggarai, batu-batuan berjatuhan dari puncak gunung menyebabkan 7 orang meninggal.

Ruteng berada di bawah kaki deretan pegunungan, paling tidak Poco Mandosawu (2350m) dan Poco Ranaka. Gunung-gunung tersebut adalah gunung berapi aktif. Anak Ranaka sendiri adalah puncak gunungsebagai “hasil” letusan Poco Ranaka pada 1987. Selain merusak desa-desa di sekitar lokasi, letusan Poco Ranaka melahirkan anak gunung
berapi baru, yakni Anak Ranaka.

Kota Ruteng berada di bawah kaki pegunungan Mandosawu, yang selalu diselimuti kabut dan awan. Dinginnya Kota Ruteng menjadi daya tarik tersendiri. Kota itu memang letaknya strategis karena berada di tengah-tengah kabupaten. Hubungan darat dari kota itu ke kota-kota lain lancar karena hampir semua jalan pernah diaspal, dan sekarang
sebagian besar sudah rusak.
Banyak orang beranggapan Kota Ruteng merupakan salah satu kota indah di tengah pegunungan dengan lapangan terbangnya Satartacik, yang tidak bisa didarati siang hari karena kalau sudah siang hari seluruh kota diselimuti awan dan kabut.

Kalau Anda tinggal di Ruteng, apa yang Anda lakukan?

Selama penulis berada di Ruteng, banyak orang membicarakan dampak positif dan negatif dari panorama alam di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng. TWA ditetapkan sebagai hutan konservasi oleh Departemen Pertanian pada 1993. TWA Ruteng meliputi kawasan seluas lebih 32 ribu hektare dan di dalamnya tersedia berbagai objek menarik, yaitu Danau Rana Mese dengan berbagai jenis ikan dan burung belibis. Air terjun Cunca Rede, Puncak Gunung Ranaka dan Artak Ranaka, dan aneka burung
sekitar 250 spesies. Danau itu terletak di pinggir jalan negara poros Manggarai-Ngada-Ende.

TWA Ruteng mulai banyak dikunjungi wisatawan lokal, terutama remaja pelajar yang memanfaatkan waktu libur mereka untuk berekreasi, walaupun banyak juga anekdot yang muncul bahwa di tempat itu tidak jarang dijadikan tempat “mesum”.

Terlepas dari kegiatan pariwisata yang menjanjikan, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah persiapan mental generasi muda kita. Biasanya, pariwisata selalu dikaitkan dengan kegiatan seks.

Yang penting, generasi kita tidak boleh menjadi korban. Namun, sangat disayangkan, di Labuan Bajo dan Ruteng, beberapa pekerja seks komersial (PSK) dari daerah itu disediakan untuk mereka yang suka jajan “ayam kampung asli dari daerah Manggarai”.

Kita tidak menginginkan PSK semakin menjamur di wilayah itu. Gereja dan pemda harus saling bahu-membahu mengatasinya. “Kita harus mengantisipasi dampak negatif dari kegiatan pariwisata. Karena itu, dampak negatif TWA juga perlu dipantau,” ujar Rafael.

TWA Ruteng belum digarap secara profesional dan ia berada di bawah payung Departemen Kehutanan. Kita mengharapkan agar orang muda dapat memanfaatkan TWA untuk mencintai alam, yang menjadi teman hidup di sekeliling kita.

Dari Ruteng, Anda bisa juga pergi ke Reo, pelabuhan laut di pantai utara untuk berwisata bahari. Dari situ Anda bisa ke Robek, yang pantainya indah untuk berenang. Dari Reo Anda bisa ke Dampek terus ke Bentengjawa untuk menyaksikan keindahan gua Cincoleng (stalaktit/stalakmit) yang berbentuk patung. Sepanjang wilayah Lambaleda, Anda akan menikmati keindahan panorama alam yang menawan, khususnya bukit-bukit berbatu. Anda juga bisa menyaksikan Gua Werwitu, Tiwu Cewe, sebuah kolam berbentuk kuali dan menikmati panorama alam Golo Munga.

Dari Ruteng, Anda juga bisa pergi ke Kampung Ruteng Puu, di mana kampung adat Manggarai kuno masih terpelihara dengan baik. Di situ Anda akan disuguhi tarian-tarian adat Manggarai seperti caci, sae, sanda, danding, upacara perkawinan dengan kerbau dan kuda. Semuanya itu terakomodasi dalam siklus upacara tahunan, yang dikaitkan dengan
mengelola pertanian ladang (penti).

Kalau Anda mau menikmati keindahan Kota Ruteng, berangkatlah ke Golo Curu di Karot, Ruteng. Daerah ini juga terkenal karena di sini terdapat Gua Maria, tempat ziarah umat Katolik daerah itu.

Dari Ruteng dengan kendaraan roda empat atau motor, Anda bisa pergi ke Liang Bua, yang menurut hasil penelitian ahli arkeologi, merupakan salah satu tempat tinggal manusia purba.

Menurut catatan Dinas Pariwisata setempat, terdapat paling sedikit 54 objek wisata alam yang bisa dikembangkan menjadi sumber penghasilan daerah. Objek-objek wisata alam itu tersebar di Kecamatan Komodo, Poco Ranaka, Sano Nggoang, Ruteng, Lambaleda, Lembor, Borong, Elar, Sambi Rampas, dan Macang Pacar. Dari wilayah barat yang meliputi
Kecamatan  omodo, wisatawan bisa menikmati panorama alam Poteng, Gunung Ara, Puncak Waringin yang sangat menakjubkan. Sedang dari puncak Pramuka, bukit Binongko, Batu Gosok dengan bukit-bukit kecilnya, wisatawan bisa menikmati keindahan matahari terbenam dengan berkas-berkas sinar yang mamantul dari laut kawasan Taman Nasional Komodo.

Di Sano Nggoang wisatawan bisa menemukan betapa agungnya alam ciptaan dalam keindahan dengan kekhasan aroma belerang, mata air panas, panorama alam dan tempat rekreasi serta itik hutan (belibis). Di kawasan ini wisatawan pun masih bisa menyaksikan keindahan air terjun Cunca Lolos, gua kelelawar yang menghuni Liang Dara, Liang Rodak.

Di kawasan Lembor yang terkenal sebagai gudang beras Manggarai, wisatawan bisa menikmati sejumlah keindahan alam berupa tempat pemandian yang mulai ramai dikunjungi di Poco Ruteng, patung manusia purba di Desa Pongwelak, mata air panas di tepi jalan Nangalili, empat benteng perang yaitu Wongkol Dua, Benteng Ledang, Benteng Togo, dan Benteng Ponto.

Dari Ruteng Anda bisa pergi melewati puncak dan keindahan gunung untuk menyaksikan sumber listrik panas bumi, Ulumbu, di Satar Mese, yang juga bisa dipakai sebagai pemandian air panas alam. Ulumbu pernah direncanakan sebagai sumber tenaga listrik untuk seluruh NTT, namun sekarang ide itu sudah tenggelam.

Menuju Borong, terdapat panorama alam yang menakjubkan dalam diri Danau Rana Mese yang sudah terkenal itu. Danau seluas lima hektare ini menyimpan banyak misteri di dalamnya. Di kawasan ini terdapat berbagai jenis ikan yang pas untuk rekreasi alam dan berenang. Ada juga air terjun Cunca Wae Tegel, Rana Loba, Rana Kenting, Cunca Wae Pagol.

Di Elar ada Rana Ngandong, sebuah tempat rekreasi yang banyak
diminati wisatawan, Rana Kulan, Danau Tonjong Raksasa di mana
terdapat tanaman langka berupa teratai raksasa.

Ziarah Budaya
Selain daya tarik alam dan kelautan, Manggarai memiliki aneka budaya yang unik seperti tercermin dalam adat istiadat, pola dan cara berpakaian, kesenian, sistem mata pencaharian mereka, kerajinan tangan, hingga terpancar dalam benda-benda peninggalan kuno seperti compang (mesbah yang terbuat dari batu), rumah-rumah adat yang
tersebar di kampung-kampung tradisional. Caci merupakan jenis kesenian tontonan yang cukup populer di Manggarai. Jenis kesenian ini sering disajikan untuk menyambut tamu-
tamu penting, pesta syukur usai panen, bahkan disajikan sebagai pertunjukan untuk para turis. Selain caci, ada danding dan mbata yang merupakan tarian rakyat yang bisa dikembangkan menjadi tontonan menarik. Rumah adat yang dalam disebut Mbaru Gendang (Mbaru Tembong) merupakan wajah budaya khas Manggarai.

Rumah ini terdapat di hampir semua perkampungan adat. Selama ini rumah adat lebih dikenal sebagai objek penelitian antropologis dan sosiologis. Di antara rumah adat yang kerap dikunjungi wisatawan adalah Rumah Adat Todo, pusat kediaman resmi Raja Todo di masa lalu. Banyak arti simbolik dari rumah adat ini, misal tentang sistem perkawinan, sistem pemerintahan, struktur sosial- kemasyarakatan dan sebagainya. Banyak nilai yang terkandung di balik rumah adat ini, antara lain nilai religiusitas, persatuan dan kesatuan, kerja keras.

Memang, secara keseluruhan objek-objek pariwisata di Flores belum ditata secara profesional. Bagaimanapun juga, pariwisata di abad ke- 21 menjadi suatu sektor strategis yang memiliki prospek cerah dan menjanjikan pelbagai harapan sumber kehidupan yang menggembirakan. Hanya sayangnya, di daerah ini, pemda belum serius menata objek,
aset, jasa dan sarana wisata yang lebih memadai agar mempunyai daya pikat bagi para turis.

Kawasan wisata bertaraf internasional seperti Taman Nasional Komodo yang tersohor dengan komodonya (Varanus komodoensis) dan objek-objek sekitarnya di lebih dari 40 pulau di Kawasan Labuan Bajo dan sekitarnya, merupakan kekayaan pariwisata lokal yang mempunyai nilai tambah bagi masyarakat setempat. Dengan adanya otonomi daerah, di mana penyerahan beberapa urusan di bidang kepariwisataan kepada Kabupaten Manggarai menunjukkan betapa daerah kabupaten mempunyai cukup kewenangan untuk berimprovisasi di sektor pariwisata.

Pengembangan kepariwisataan daerah tidak saja dilihat dalam kacamata lokal dan regional NTT, melainkan dalam suatu tren global. Oleh karena itu, diperlukan koordinasi yang mantap antara kabupaten- kabupaten se-Flores. Di Pulau Flores, misalnya, harus mulai dipikirkan oleh semua pimpinan daerah untuk mengorganisasikan suatu
kegiatan paket wisata yang lebih memadai bagi para turis. Mulai dari Tanjung Bunga di Flotim, Sikka, Ende, Ngada, Ruteng, Labuan Bajo dan berakhir di Komodo, Flores Barat atau sebaliknya mulai dari Labuan Bajo. Dari sana misalnya, para turis diarahkan ke Sumba, Timor, dan Alor. “Lama tinggal” para turis di suatu lokasi wisata menjadi sumber
devisa bagi daerah sekaligus pemasukan bagi masyarakat di lokasi- lokasi wisata.

Untuk itu, memang diperlukan komitmen, apresiasi tinggi dari semua pihak, jika kepariwisataan Flores dikehendaki sebagai salah satu aset sangat potensial bagi pengembangan perekonomian daerah pada dekade mendatang. Ide ini pernah dilontarkan oleh mantan Bupati Manggarai Gaspar Ehok, namun kini tinggal kenangan ide.

Sudah tiba waktunya masyarakat dan pemerintah menciptakan kebutuhan bagi para turis, dan bukan hanya mengikuti begitu saja kehendak bebas para turis itu. Harus ada keberanian moral untuk menunjukkan baha masyarakat di lokasi wisata dan pemerintah, bukanlah tipe manusiayang bisa diatur seenaknya oleh keinginan dan kebutuhan turis.

Penanganan kepariwisataan saat ini tidak lagi dengan setengah- setengah, tetapi secara profesional karena kegiatan di bidang pariwisata menjanjikan banyak harapan bagi peningkatan taraf kehidupan.

Labuan Bajo saat ini menjadi pelabuhan utama kedatangan dan keberangkatan para wisatawan. Bahkan pelabuhan di ujung barat Flores ini tidak hanya menjadi pintu masuk utama bagi wisatawan yang hendak menyaksikan keunikan satwa Komodo di TNK, tapi juga sebagai terminal bagi wisatawan yang hendak melanjutkan perjalanan ke lokasi-lokasi wisata utama di Flores lainnya seperti perkampungan tradisional Bena dan Taman Laut 17 Pulau di Ngada, atau Danau Kelimutu di Ende. Komitmen pemda terhadap ide Labuan Bajo menjadi satu-satunya pintu masuk harus dikembangkan.

Memang, di Labuan Bajo tersedia banyak angkutan laut berupa perahu motor dan motor tempel yang sehari-hari hilir mudik dari Labuan Bajo ke lokasi-lokasi tujuan wisata di kawasan TNK. Sedang untuk menghubungkan Labuan Bajo-Ruteng ke Ngada-Ende, sudah tersedia jalan negara yang kualitasnya terus ditingkatkan. Dalam situasi alam yang
masih perawan, Anda akan menikmatinya.

Oleh : Cyprianus Aoer

About these ads
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: